Thursday, September 09, 2004

Senyummu...

Ku tak ingin menduga
ketika perjumpaan itu terjadi
dalam sekelebatan waktu
yang tak terduga, sepotong senyum
terlontar kepada hati yang rapuh
ketika melihat dirimu.

Aku kembali teringat
ketika pandangan pertama itu
menghisap seluruh kecintaan jiwaku
tak sanggup menahan
sehingga wajahku terbuang dalam
rasa ingin tahu yang terus mencuat

Dirimu yang telah berdampingan
ku dapat memahami
ku hanya dapat memandangmu
dan senyum terlempar
yang tak kupahami maknanya bagiku

Akankah kita bertemu lagi?
Kala kerinduan ini tidak memperdulikan
berbagai bentuk nasihat yang sampai ke jiwaku.

Sunday, June 13, 2004

Sahabat

Selamat datang di duniaku yang hancur
Belum berkeping-keping, tapi retakannya
menjalar seluruh dalam jiwa ini
Jikalau tidak ada para sahabat
Kehancuran ini akan sangat cepat
Datang; memburu dengan segala kebuasan

Jikalau tak ada tausiyah yang mampir
Hati ini kelak akan menghitam dan keras
Cahaya hidayah pun tak bisa masuk
Hingga hati ini seluruhnya legam berjelaga

Wahai akal dan hati
Mengapa kau jalan terpisah ?
Atau derai tawa telah melupakan
Makanan sehat bagi ruh ini ?

Terima kasih sahabat
Kehilangan kalian adalah kehilangan duniaku
Semoga dipertemukan dalam akhir di jannah
Meskipun mungkin kita akan berpisah sejenak
Ketika aku menyinggahi neraka
Untuk membersihkan kotoran jiwaku

K A U

Kau datang lagi dalam angan
Kotor dan bersih tak peduli
Kau terus merongrong hati ini
Dalam keinginan memiliki

Sayangnya…
Kau tak tahu
Kalau kerinduan ini selalu menerpa
Dalam segala sendiriku
Dalam segala ramaiku
Dalam segala resahku
Dan ternyata
menjadi CANDU
: Sakit dikala jauh dan mabuk dikala dekat

Namun aku coba mensudahi
Hanya ada usaha di jalan-Nya
Dan sepotong doa pun mengalir
Dari dua bibir anak nakal ini
“Tuhan, bila memang takdir-Mu,
persatukanlah kami di jalan-Mu.
Bila takdir-Mu untukku berkehendak lain,
Jadikanlah aku orang yang sabar
dan Kaulah Yang Maha Tahu
yang terbaik untuk-Ku”.

Dan kau…
Untuk sementara
Akan menjadi penghias taman hidupku
sebagai bunga yang berwarna indah, wangi
Yang akan bertambah indah dan wangi
Dikala waktunya mekar nanti
Lalu takdir untukku
berkata untuk memetikmu



Puisiku

Dalam keramaian lagu
Ku tuliskan kata-kata
Lewat ketikan keyboard komputer
Maupun ayunan pensil tertempel kertas
Berbait puisi
Kadang bermakna kadang tidak

Inilah isi hati yang tertuang
Isi yang penuh maupun hampa
Kekosongan menyeruak meminta
Agar volume yang ada terpenuhi

Beratus sampai bermilyar kata
Terjemahan dalam ruh terbesit
Dalam gembira atau liputan amarah
Dalam sukaku dan sedihku
Dalam mata dan kata orang
Dalam kejadian dan terjadinya
Tak’kan cukup lagi ruang dalam hatiku

Menikmati kebebasan berlimit
Karakter keluar dan ternilai
Meskipun terasa berbeda dengan kenyataan.

(@my room, Ahad, 03 April 2004)

Foto

Selembar foto
Banyak bicara
Tentang manusia
Refleksi kehidupan tanpa fantasi

Sebuah foto
Bercerita tentang kita
Dikala sedih dan gembira
Dikala peristiwa ingin masuk ingatan
Dalam perjalanan hidup pemiliknya

Berlembar foto
Bersaksi demi tegak keadilan
Bergambar kisah kekejaman dan kasih sayang
Berkuak kehidupan manusia
Berusaha ceritakan peradaban manusia


(@room, finished Ahad, 03 April 2004)

Monday, May 24, 2004

AYAT SUCI

Lantunan ayat suci

Yang telah lama tak terngiang di kepalaku

Didengarkan menambah rasa kalbu

Bagaikan rindu terbayar lunas

Yang selama ini juga jarang

membasahi lidah dan bibir

terus ternoda oleh dosa lisan

Menunggu panggilan itu…

Sejuk terasa menggerayangi hati

Setiap sel tubuh berdzikir

Setiap alam memuji-Nya

Menghiasi lamunan dalam setiap detik

Senandung suci ini…

Adalah tausiyah abadi bagi manusia

Kecintaan Rabb bagi makhluk

Tanpa pandang bulu

bagi siapa saja yang ingin kembali


(@my room, Ahad, 03 April 2004)

Dalam Malam

Malam yang telah berarak ke larutnya

Dalam desahan lagu suara wanita timur

Dibalik itu terpampang wajahmu

Yang kusebut “bidadari”

Yang hanya bisa kupandangi gambarnya

Ketika diriku tak sanggup menatapmu

Karena jiwa ini tertarik seketika

Ke dalam duniamu yang bermisteri

Akankah ini tumbuh menjadi cinta?

Tatkala purnama yang kupandang

Menjadi sebentuk wajahmu

Bahkan ketika hilal 2 Rabiul Akhir

Kuteringat dirimu…

Ku tak tahu

Biarkan takdir dari masing-masing kita

Akan menjemputnya


(@ my room, 23 Mei 2004) Besok mo UAS Aljabar 2

Beberapa dari IQBAL: Javid Namah (Kitab Keabadian)

Halaman 41 bagian Rumi
Manusia adalah pedang, dan Tuhan pendekar pedang,
dan dunia ini batu asahan bagi sang pedang.
Timur melihat Tuhan dan tidak melihat dunia,
Barat lari dari Tuhan dan merangkak di dunia.
Penghambaan sejati ialah membukakan mata pada Ilahi,
hidup sejati melihat diri sendiri tanpa selubung sama sekali.
Bila seorang hamba memenuhi kewajiban hidupnya,
Tuhan sendiri mendoakan keselamatan baginya.
Betapapun manusia tak sadar akan takdirnya,
debunya tak sejalan dengan api jiwanya.


Halaman 21 bagian Nyayian Para Malaikat
Seri keagungan sekepal tanah suatu ketika akan bersinar lebih gemilang dari segala makhluk yang tercipta dari cahaya;
berkat bintang peruntungan nasibnya, suatu ketika bumi pun akan dapat diubahnya menjadi sorga.
Angan-angannya, yang dipupuk oleh perubahan keadaan yang berlimpahan terjadi,
suatu ketika akan membubung tinggi dari pusaran langit lazuardi.
Pikirkan sejenak arti Insan ini; apa yang kauharapkan dari kami?
Kini ia sedang menjelajahi menembus alam, suatu ketika ia akan berubah sempurna,
pribadi mulia ini akan berubah sedemikian sempurna,
hingga Tuhan pun suatu ketika akan jatuh hati berhadapan dengannya!

Tuesday, May 18, 2004

Berjalan dalam perenungan

Ada saatnya untuk berhenti

Dan melihat jiwa yang indah ini

Tak kuasa untuk menuliskannya

Disini...